>
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Dan Perkembangan Ilmu Falak dalam islam

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixllJcreGJpaH_ER1NhLZWlk21F5_jVQbQ2MGcwu4r1kpixnuG-tYuln0B__4f_fhsziAtsf5hHjKJS6Fi-U0nNv_18Fr4VZ0Aa-16TTFT1t30FU5EDNPOkqwybM5b2SXCBxSdEqhRYYNc/s1600/ilmu+falak.jpg
  kajian ilmu falak banyak mendapat perhatian dari para peneliti dan sejarawan. Regis Morlan (seorang orientalis Prancis, peneliti sejarah ilmu falak klasik) mengemukakan beberapa factor di antaranya: banyaknya ulama yang berkecimpung di bidang ini sepanjang sejarah,  banyaknya karya-karya yang dihasilkan,  banyaknya observatorium astronomi yang berdiri sebagai akses dari banyaknya astronom serta karya-karya mereka,  banyaknya data observasi (pengamatan alami) yang terdokumentasikan. Sementara itu Prof. Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman (guru besar ilmu falak di Institut Nasional Penelitian Astronomi dan Geofisika, Helwan - Mesir) mengatakan “astronomi adalah miniatur terhadap majunya peradaban sebuah bangsa”.
Dalam perjalanan mulanya, peradaban India, Persia dan Yunani adalah peradaban yang punya kedudukan istimewa. Dari tiga peradaban inilah secara khusus muncul dan lahirnya peradaban falak Arab (Islam), disamping peradaban lainnya. Peradaban India adalah yang terkuat dalam pengaruhnya terhadap Islam (Arab). Buku astronomi ‘Sindhind’ punya pengaruh besar dalam perkembangan astronomi Arab (Islam), dengan puncaknya pada dinasti Abbasiah masa pemerintahan Al-Manshur, buku ini diringkas dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ibrahim al-Fazzârî adalah orang yang mendapat amanah untuk mengerjakan proyek ini, sekaligus juga ia melahirkan buku penjelas yang berjudul “as-Sind Hind al-Kabîr”.
       Peradaban Persia memberi pengaruh signifikan dalam peradaban ilmu falak Islam, ditemukan cukup banyak istilah-istilah falak Persia yang terus dipakai dalam Islam hingga saat ini, seperti zij (epemiris) dan auj (aphelion). Buku astronomi berbahasa Persia yang banyak mendapat perhatian Arab (Islam) adalah 'Zij Syah' atau ‘Zij Syahryaran’ yang merupakan ephemiris (zij) yang masyhur di zamannya.
Sementara dari peradaban Yunani puncaknya dimotori oleh Cladius Ptolemaus (w. ± 160 M) yang dikenal dengan sistem "geosentris"nya. Gagasan astronomi Ptolemaus terekam dalam maha karyanya yang berjudul ‘Almagest’ atau ‘Tata Agung’ yang menjadi buku pedoman astronomi hingga berabad-abad sebelum runtuh oleh teori tata surya Ibn Syathir (w. 777 H) dan Copernicus.
Dalam melihat sejarah ilmu falak maka dapat diklasikasikan sebagai berikut:
1.      Ilmu falak sebelum islam
Waktu dulu manusia pada pada umumnya manusia memahami seluk beluk alam semesta hanyalah seperti apa yg mereka lihat, bahkan sering di tambah dengan macam-macam tahayul yang bersifat fantastis. Menurut mereka, bumi merupakan pusat alam semesta. Setiap hari, matahari,bulan, dan bintang-bintangdengan sangat tertib mengelilinhi bumi.
Sekalipun demikian,ada di antar mereka yang memahami alam raya ini dengan akal rasiaonya. Para ilmuan yang ada pada saat itu,salah satunya adalah: Aristoteles, dia berpendapat bahwa pusat jagad raya adalah bumi sedangkan bumi dalam keadaan tenang, tidak bergrak dan tiddak berputar. Semua gerak benda-benda angkasa mengitari bumi. Lintasan masing-masing benda angkasa berbentuk lingkaran. Sedangkan peristiwa gerhana misalnya tidak lagi di pandang sebagai adanya raksasa penelan bulan, melainkan merupakan peristiwa alam.
Pandangan manusia terhadap jagad raya mulai saat itu umumnya mengikuti ppandangan aritoteles yaitu: GEOSENTRIS  yakni bumi sebagai pusat peredaran benda-benda langit.
2.      ilmu falak dalam peradaban islam
sekitar tiga ratus tahun setelah wafatnya nabi muahamad saw.negara-negara islam telah memiliki kkebudayaan dan pengetahuan tinggi. Banyak sekali ilmuan muslim bemunculan dengan hasil karyannya yang gemilang.
Pada thn 773 M, seorang pengembara india menyerahkan sebuah buku data astronomis berjudul “Sindbind” atau “Sidbanta” kepada kerajaan islam di Baghdad. Oleh khalifah Abu ja’far al-mansur, di perintahkan agar buku itu di terjemahkan kedalam bahasa arab. Perintah ini di lakukan oleh Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari. Atas usahanya inilah Al-Fazari dikenal sebagai ahli ilmu falaq yang pertama di dunia islam.
Di samping itu, Al-khawarismi menemukan bahwa zodiak atau ekliptika itu miring sebesar 23.5 derajat terhadap ekuator, serta memperbaiki data astronomis yang ada pada buku terjemahan sindhind.
Dua buah buku karyanya adalah al-muksbtasbar fihisabil jabrwal muqabalah dan suratul ardl merupakn buku pennting dalam bidang ilmu falak,sehingga banyak di ikuti oleh para ahli ilmu falak berikutnya.
         Selain para tokoh di atas, ulugh bek ahli astronomi asal iskandaria dengan observatoriumnya berhasil menyusun table data astronomi  yang banyak di gunakan pada perkembangan ilmu falak masa-masa selanjutnya.
Hal demikian inilah yang menyebabkan istilah-istilah astronomi yang berkembang sekarang ini banyak menggunakan bahasa arab, misalnya nadir,mintaqotul buruj dan lain sebagainya.
Sekalipun ilmu falak dalam perdaban islam sedah cukup maju, namun yang patut di catat adalah bahwa pandangan terhadp alam masih mengikuti pandangan aritoteles yaitu geosentris .
3.      Ilmu falak dalam peradaban Eropa
Pada masa Negara-negara islam mencapai kejayaannya,bangsa eropa masih berada pada ketertinggalan,bangsa eropa mulai tertarik pada ilmu pengetahuan seperti yang telah di pelajari orang-orang islam yang sudah demikian tinggi serta penemuan-penemuan di berbagai cabang ilmu pengetahuan,pendapat-pendapat ilmuan muslim mulai di tentang oleh aliran muslim kolot.
Seentara itu,bangsa eropa mulai maju kea rah kebudayaan yang kian mrninggu.mereka mempelajari semua peninggalan kebudayaan bangsa arab yang talah runtuh dari kajayaannya mereka mengambil manfaat dari sejarah yg telah di capai bangsa arab mereka menginginkan kebangsaan yang jaya dan pemimpin dunia.
Untuk mencapai tujuan ini antara lain yang di lakukan adalah menterjemahkan buku-buku ilmu falak kedalam bahasa eropa misalnya, buku Almukhtashar fi Hisabil jabrwal   muqabalah karya al-khawarijmi di terjemahkan kedalam bahasa latin oleh grard  dari Cremona.ilmuan eropa pada decade ini adalah Galilei Galileo (1564-1642 M),Nicolas Copernikus (143-1543 M) dan lain-lain.
4.      Ilmu Falak Di Indonesia
a.      Ilmu falak pada awal perkembangan di Indonesia
Sejak adanya penanggalan Hindu dan penanggalan Islam di Indonesia,khususnya di Pulau Jawa serta adanya penanggalan Jawa Islam oleh Sultan Agung, sebenarnya bangsa indonesias sudah mengenal ilmu falak.
Kemudian seiring dengan kembalinya para ulama’ muda ke Indonesia dari bermukim di makah pada awal abad 20 M, ilmu falak mulai tumbuh dam berkembang di tanah air ini, mereka mengajarkannya kepada santrinya di Indonesia.
Di antaranya adalah Syeh Abdurahman bin Ahmad al-misri  ulama’ muda yang belajar kepadanya adalah Ahmad dahlan as-Simarani dan kemudian mereka ajarkan lagi kepada santrinya dan seterusnya.
b.      Ilmu Falak Pada Perkembangan Baru
dengan berkembangnya ilmu falak di Indonesia dan juga para ahli ilmu Falak banyak sekali buku-buku  ilmu falak dengan  karya-Karyanya Antara lain Adalah Sebagai Berikut:
1.      Abdul faqih (Demak ),karyanya “Al-Kutub Falakiyah
2.      Abdul falah ( Gresik) , karyanya “ Muzakarotul Hisab”
3.      Abdul badawi (Yogyakarta) , karyanya “ Hisab hakiki”
c.       Ilmu Falak Pada Perkembangan Lanjut
d.      Ilmu Falak Pada Computer
Pada zaman sekarang ini muncualah program-program software yang menyiapkan sekaligus melakukan perhitungan , sehingga program ini di rasa lebih praktis dan lebih mudah bagi pemakainya. Program ini misalnya “Mawaqit” yang di program oleh ICMI Korwil Belanda pada tahun 1993, program “Falakiyah Najmi” oleh Nuril Fuad pada tahun 1995, program “Astinfo” oleh jurusan jurusan MIPA ITB Bandug tahun 1996. Dan masih banyak lagi lainnya.
C.     Kegunaan Ilmu Falak
Dalam penggunaan praktis, ilmu falak merupakan ilmu yang mempelajari tata lintas pergerakan bulan dan matahari dalam orbitnya secara sistematis dan ilmiah demi kepentingan manusia. Ibn Khaldun (w. 808 H) dalam “Muqaddimah”nya mendefinisikan ilmu ini sebagai ilmu yang membahas tentang pergerakan bintang-bintang (planet-planet) yang tetap, bergerak dan gumpalan-gumpalan awan yang berhamburan. Makna yang hampir sama juga dikemukakan al-Khawarizmi (w. 387 H) dalam ‘Mafatih al-‘Ulmu’nya.
Ilmu falak sebagai ilmu yang mempelajari benda-benda angkasa selalu dibutuhkan oleh manusia. Dari penelaahan berbagai benda-benda angkasa ini manusia dapat mengetahui dan memanfaatkan banyak hal. Ilmu ini selalu ada dan dibutuhkan dalam kehidupan manusia dan selalu dibicarakan orang disetiap waktu dan zaman. Hal demikian mengingat betapa penting dan menariknya ilmu ini. Mengamati langit, yang merupakan kegiatan utama ilmu falak adalah aktifitas pengamatan benda-benda angkasa alamiah ciptaan Allah Swt yang selalu berubah dan bergerak serta menawarkan berbagai tantangan bagi para pengamatnya. Dahulu, dan hingga kini, langit atau angkasa merupakan obyek wisata yang menarik dan banyak digemari manusia.
Obyek pembahasan utama ilmu falak syar'i dalam Islam adalah fenomena bulan dan matahari. Fenomena alamiah dari dua benda angkasa ini menjadi wasilah kebolehan dan batas waktu ibadah seorang muslim seperti batas waktu salat, puasa dan kiblat yang diperkuat oleh berbagai nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Pembahasan falak syar’î secara garis besar meliputi empat hal: (1) penetapan awal-awal bulan kamariah, (2) penetapan waktu-waktu salat, (3) penentuan arah dan bayang kiblat, dan (4) penentuan terjadinya gerhana (baik gerhana matahari maupun gerhana bulan).

                          III.            KESIMPULAN
 Ilmu falak merupakan ilmu yang  sangat penting dalam kehidupan kita. Karena dengan ilmu falak orang dapat memastikan kemana arah kiblat suatu tempat di permukaan bumi.dengan ilmu falak pula orang dapat memastikan awal waktu shalat. Ilmu falak juga mempermudah orang yang rukyatul hilal dapat mengetahui di mana posisi hilal berada.dengan demikian, ilmu hisab mempunyai peran yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah umat islam. 
READMORE
 

RG-UG 112 jpg.

READMORE
 

XENON Dual mode TouchPad Mouse Pertama di Dunia dari Gigabyte

Gigabyte sebagai produsen motherboard terkenal baru saja mengumumkan mouse touchpad dengan dual mode di website resmi mereka. Produk jenis baru dari perusahaan ini disebut Xenon dan bisa berfungsi baik sebagai touchpad maupun sebagai mouse biasa. Perangkat ini dibekali software Aivia Painter dan menggunakan teknologi Free Scrolling dari Gigabyte. Mouse ini juga menggunakan teknologi wireless/tanpa kabel dan memiliki permukaan sentuh cukup luas di bagian atasnya.
Menekan tombol di samping mouse akan mengaktifkan fungsi touchpad pada perangkat Xenon ini. Mouse canggih ini dapat menangkap sinyal wireless sampai jarak 10 meter dan untuk power menggunakan dua buah batere AAA. Resolusi yang didukung adalah 1000 dp dengan report rate 125 reports per detik.
Ingin tahu lebih jauh silakan ke: http://www.gigabyte.com/products/product-page.aspx?pid=4057#kf


Ibanz_H
READMORE
 

Gambar-gambar Pilihan RG-UG 112





READMORE
 

Melontar Jumrah





Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Kita telah melewati ibadah wajib puasa satu bulan lamanya dan ditutup dengan Hari Raya Iedul Fitri. Semoga kita kembali kejati diri kita, semoga kita bersama memperoleh ampunan, ridha dan kenikmatan surgawi.

Kini bulan Syawal saatnya kita bersilaturahmi. 3 Bulan depan adalah bulan haram, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram. Bulan suci tidak diperbolehkan terjadinya pertumpahan darah. Bulan-bulan yang menjamin keamanan jamaah haji. Dzulhijah adalah bulan persiapan dan perjalanan Ibadah Haji, Bulan Dzulhijjah adalah Puncak Ibadah Haji dan Bulan Dzulhijah serta Muharram saatnya jamaah haji perjalanan pulang menuju kampung halamannya.

Salah satu prosesi dalam Ibadah Haji adalah Melontar Jumrah, salah satu prosesi keluarga Ibrahim dalam menjalankan ketaatan Agama Tauhid, hanya menyembah Allah SWT penguasa langit dan bumi dan segala isinya.

Mengutip Ayat Suci AlQuran


[6:161] Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik"


Melontar Jumrah
Mina, 10 Dzulhijjah (Subuh) ; Melontar Jumrah Aqabah 7 kali.
Mina, 11 Dzulhijjah (Subuh-Malam); Melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah 7 kali.
Mina, 12 Dzulhijjah (Pagi) ; Melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah 7 kali.

Setelah stamina badan mereka pulih, mereka melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melontarkan 3 jamarat, yaitu Jumrah Aqabah, Jumroh Wustha dan Jumroh Ula. Orang-orang awam sering menyebut istilah ketiga tempat pelontaran itu dengan sebutan Iblis Besar, Iblis Menengah dan Iblis Kecil. Walaupun menurut sejarah pelemparan ini betul-betul melontar iblis dalam wujud yang nyata, karena pada masa itu Nabi Ibrahim ketika hendak menyembelih anaknya Ismail atas perintah Allah SWT. Iblis datang menjelma di Aqabah untuk menggagalkan ketaatan Nabi Ibrahim tersebut, tepatnya di Aqabah, Iblis pun tidak putus asa, lalu dia mempengaruhi istrinya Hajar, agar perbuatan itu jangan dilakukan, maka Hajar pun melempar iblis dengan kerikil-kerikil kecil di Jumrah Wustha (pertengahan) itu, iblis pun mengalihkan rayuannya kepada yang akan disembelih yaitu Nabi Ismail as. Bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh siapapun di dunia ini sepanjang sejarah, maka Nabi Ismail as melempar iblis di tempat yang disebut dengan Jumrah Ula (Jumrah kecil).

Dari sudut syariat semua perbuatan itu dilakukan semata-mata ta’abudiah, tauqifiah mengikuti jejak Nabi Ibrahim as. walaupun setan dan iblis sekarang ini tidak muncul dalam bentuk konkrit, tetapi setan itu mengalir di seluruh tubuh manusia di cela-cela urat nadi, bahkan di tempat tidak mengalir darahpun setan bisa bertengger seperti di rambut dan di kuku. Maka tidak ada salahnya dalam pelaksanaan melontar jamarat ini kita tafsirkan sebagai bahasa simbolik sebagai lambang permusuhan kita dengan setan besar, pertengahan dan setan-setan kecil.

Sehingga setelah pelaksanaan melontar ini para jamaah haji tidak lagi berteman dengan setan-setan yang ada di tanah air, baik setan besar, setan pertengahan ataupun setan kecil.Dengan dilaksanakannya melempar jumrah tanggal 10 Dzulhijjah, maka berakhirlah batas berpakaian ihram, berarti pelaksanaan ibadah haji sudah hampir selesai. Sewajarnyalah para tamu-tamu Allah Swt. berpamitan dengan Baitullah Ka’bah yang mulia, yaitu melakukan tawaf wada’ (tawaf perpisahan).

[ Memahami Rahasia-rahasia Ibadah Haji, Mimbar Jumat 14 Desember 2007 ]


Doa Melontar Jumrah


Secara kasat mata, simbol iblis di Jumrah aqabah dilambangkan dengan obeliks.











Obeliks sekitar Arafah





[ Apa Hukum Mendaki Jabal Rahmah Pada Hari Arafah dan Shalat Di Sana? ]


Obeliks sekitar kita

Obelisk Aswan, Mesir

Obelisk Mesir, Jarum Cleopatra

Oblisk Washington DC

Oblisk Washington DC

Obelisk Vatican, Rome

Obelisk London, "Bank of Thames"

Obelisk Paris, France

Obelisk, Buenos Aires, Argentina

Obelisk Axum, Kopti, Ethiopia

Obelisk Axum dikirim Kembali dari Roma

Obelisk, Dalhousie, Singapore

[ Dalhousie Obelisk ]

Obelisk, Tugu Pahlawan, Surabaya

Tugu Muda, Semarang


Monumen Nasional, Jakarta

Tugu Jogja

[ Tugu ]

Tugu Emas Bandung Barat

[ Rencana Pembangunan Tugu Emas Terbengkalai, (Rp 50 Milyar) ]

[ I, Obelisk ]
[ The New Jerusalem ]
[ Obelisks in Germany ]
[ Egyptian Obelisk ]

Satanic System

“Ada tiga pilar yang menjadi kekuatan sistem keuangan setan. Yaitu, uang kertas, dibolehkannya bank melakukan pencetakan uang, dan sistem riba,” papar praktisi perbankan syariah yang aktif menulis buku tentang pentingnya penerapan sistem ekonomi syariah."

“Uang kertas yang sekarang menjadi alat tukar kita, sebenarnya uang yang dipaksakan. Karena tidak mempunyai nilai dari uang itu sendiri,” jelas Riawan. Karena itu, menurutnya, di antara langkah yang harus dilakukan umat Islam adalah selain kembali kepada sistem ekonomi syariah juga harus mulai menerapkan uang dinar dan dirham."

[ Riawan Amin: Satanic Finance Bikin Umat Miskin ]



Ekonom sering menyebut ekonomi berbasis syariah ini dengan sistem ekonomi
alternatif. Namun, sistem ini baru pada tahapan perang dalam satu pilar ekonomi moneter yang berlaku, yakni memerangi interest semata melalui sistem perbankan syariah yang tersedia. Sedangkan pada fiat money serta fractional reserve requirement masih jauh panggang dari api. Artinya, pelaku ekonomi syariah atau pegiat ekonomi syariah, masih harus bekerja keras menciptakan sistem ekonomi alternatif ini sehingga dapat dianut ekonomi masyarakat dunia. Misalnya, mengembalikan alat tukar dengan logam mulia atau setidaknya pencetakan uang kertas di-back up sepenuhnya dengan logam mulia yang setara serta menghilangkan bunga.
[ Pilar Ekonomi Moneter Dunia Versus Alternatif ]

[ Satanic Finance, Majalah Era Muslim Edisi 8 Online ]




Penutup
Saat ini simbol Jamarat tidak lagi berbentuk obeliks (disebut juga dengan jarum Cleopatra), tetapi berbentuk persegi panjang. Keuntungan dengan bentuk ini memudahkan membidik, dengan jumlah Jamaah Haji yang besar tidak lagi berdesakan membidik, tidak lagi saling lontar bila meleset melontar jumrah. Berkurang jamaah haji yang tertimpuk jumrah. Namun makna simboliknya perlu kita renungkan dan kita cari hikmahnya di sekitar kita.





READMORE
 

Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib

  Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin. (kaskus.us)
AZHAR.M.F

READMORE
 

SEJARAH ADZAN



Bilal bin Rabah tercatat sebagai muadzin pertama dalam sejarah Islam. Bilal juga termasuk golongan pertama yang masuk Islam, tepatnya orang ketujuh yang masuk Islam.
Bilal adalah budak Umayyah dan dimerdekakan Abu Bakar ketika Bilal sedang mengalami penyiksaan oleh sang majikan gara-gara masuk Islam. Umayyah mematok harga sangat tinggi, namun Abu Bakar tetap membayarnya. Bilal kemudian bekerja pada Abu Bakar lalu membantu Rasulullah Saw menyebarkan Islam.
Bilal dianugerahi suara merdu. Kelebihannya itu pun ia abdikan untuk Islam. Ia menjadi muadzin.
Diriwayatkan, sebelum adzan ditetapkan sebagai panggilan shalat atau penanda masuknya waktu shalat, Rasulullah Saw sempat berpikir untuk memanggil umat menggunakan terompet. Namun, beliau sendiri tidak menyukai idenya karena orang Yahudi juga menggunakan cara yang sama. Akhirnya, disepakati berupa tepukan tangan.
Salah seorang sahabat, Abdullah bin Zaid, punya ide soal itu. Ia pun menemui Rasulullah. Ia berkata, bahwa ia bermimpi bertemu seorang pria yang menggunakan dua helai kain berwarna hijau seraya membawa bel.
Dalam mimpi itu, Abdullah lalu menawarkan diri untuk membeli bel tersebut. Ketika pria itu bertanya, untuk tujuan apa ia gunakan bel tersebut, Abdullah menyatakan, bel itu akan ia gunakan untuk memanggil orang-orang untuk shalat.
Namun, pria itu menawarkan panggilan shalat yang lebih baik, yaitu kalimat takbir, syahadat, dan seterusnya (yang menjadi lafadz adzan hingga kini). Dengan gembira, Rasulullah menyatakan itu adalah ”sebuah penglihatan baik”.
Rasulullah segera meminta Abdullah menemui Bilal dan mengajarkan lafadz adzan tersebut. Bilal dipilih sebagai muadzin karena ia memiliki suara indah dan keras.
Sejak saat itulah pertama kali adzan diperdengarkan Bilal di Madinah. Diriwayatkan, setiap usai adzan, Bilal selalu berdiri di depan pintu rumah Rasulullah dan berkata “Hayya ’alash-sholah, hayya ‘alal-falaah (mari kita shalat, mari kita raih kemenangan).” Ia mengingatkan Rasul bahwa telah masuk waktu shalat.
Ketika Rasulullah wafat, pada hari pertama ”berkabung”, Bilal bersiap mengumandangkan adzan pertamanya tanpa kehadiran Rasul. Namun, baru saja ia berucap “Allahu Akbar” dan hendak mengucap nama Rasulullah SAW, ia tidak kuasa menahan kesedihan. Bilal menangis terisak-isak sehingga ia tidak meneruskan adzannya. Ia lalu berkata bahwa ia tidak akan pernah lagi mengumandangkan adzan karena tidak tahan menahan kerinduan yang mendalam kepada Rasul.
Bilal bahkan pindah ke Suriah dan menetap di kota Damaskus hingga akhir hayatnya.
Setelah Rasulullah wafat, Bilal hanya adzan dua kali. Pertama ketika Khalifah Umar bin Khattab datang ke Damaskus. Kedua ketika ia mengunjungi makam Rasulullah SAW di Madinah. Mendengar suara adzannya saat itu, semua yang hadir menangis karena teringat ketika Rasulullah Saw masih ada bersama mereka. Wallahu a’lam. (Abu Faiz/zonaislam.com).


 Oleh:Azhar.m.f dan Muhammad Ma'ruf
READMORE
 

Sejarah Adzan

Tahukah Anda, jika adzan yang kita dengar sebagai tanda waktu solat berasal dari impian Rasulullah?. Mari kita simak cerita berikut ini.
Alkisah pada saat Rasulullah menetap di Medinah, beliau membangun masjid dan melaksanakan shalat berjama’ah. Di masa itu kaum muslimin selalu mengintai dan mengira-ngira waktu shalat kemudian pergi ke masjid untuk mengikuti shalat berjama’ah. Tetapi masalah itu tidaklah mudah, maka ada yang kadang ketinggalan shalat berjama’ah atau terlambat karena kurang pandai memperkirakan waktu.
Rasullullah berpikir serius tentang bagaimana cara mengumpulkan orang-orang untuk shalat berjama’ah? Orang-orang Islampun mulai memikirkan solusi praktis untuk mengatasi masalah ini. Ada yang mengusulkan kepada Nabi supaya beliau mengibarkan bendera ketika shalat tiba. Ketika orang-orang Islam melihat benderA itu, mereka menginformasikan kepada yang lain, sehingga mereka semua datAng ke masjid. Akan tetapi nabi tidak tertarik dengan ide ini. Kelompok kedua mengusulkan agar mereka meniup terompet ketika waktu shalat tiba. Namun beliau tidak tertarik dengan ide ini. Dan beliau bersabd; “Itu adalah tradisi yahudi’.
Masalah itu tetap ada dan belum ada solusinya. Lalu Abdullah bin Zaid pulang ke rumah sambil memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh rasullullah. Kemudian tidur dan memikirkan masalah itu. Ternyata ia bermimpi melihat adzan.
Keesokan harinya Abdullah bin Zaid menemui Rasulullah dan berkata: “ Ya Rasulullah, sesungguhnya semalam ada orang berbaju rangkap berwarna hijau berkeliling dan bertemu denganku sambil membawa lonceng.
Lalu aku bertanya: “Hai Hamba Allah, apakah kamu menjual lonceng ini?”
“Untuk apa?” katanya.
“Untuk memanggil orang-orang ke tempat shalat” jawabku.
Lalu orang itu berkata: “Maukah aku tunjukkan padamu sesuatu yang lebih baik dari itu?”
“Apa itu” tanyaku.
Ia menjawab”Kamu bisa mengucapkan: “Allahu Akbar Allahhu Akbar …. Sampai akhir Adzan.”
Kemudian ia mundur jauh, lalu berkata: “Jika hendak menunaikan shalat, ucapkanlah: “Allahu Akbar Allahu Akbar ….sampai akhir iqamat.”
Kemudian Rasulullah bersabda: “Itu adalah mimpi yang benar (hak), insya Allah. Berdirilah bersama Bilal dan bacalah apa yang kamu lihat di dalam mimpimu agar dikumandangkan olehnya. Karena suaranya lebih merdu daripada suaramu.”
Kemudian Abdullah bin Zaid berdiri bersama Bilal dan menyampakan Adzan padanya, kemudian Bilal mengumandangkannya.
Sementara itu Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: ”Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”
Omongan jiwa sepanjang siang dan menjelang tidur adalah salah satu pendorong, memicu dan menyebab mimpi. Oleh karena itulah mimpi dapat menjadi salah satu cara untuk melahirkan ide-ide inovatif.
Di era digital ini semakin banyak anak-anak tidak memiliki kesempatan membaca akibat beratnya beban kurikulum yang harus dipelajarinya, maka sudah menjadi kewajiban orangtua untuk bercerita. Upaya mengimbangi melimpahnya informasi dan semakin ketatnya kompetisi dalam berbagai bidang kehidupan.
Pada dasarnya bukan hanya orangtua, gurupun bisa memanfaatkan waktu sebelum mulai proses pembelajaran dengan bercerita. Cerita mampu mengembangkan semangat berpikir siswa. Sudah waktunya guru mengembangkan pembelajaran Lintas Kurikulum (cross curriculer approach).

Oleh:Azhar.M.F dan Muhammad Ma'aruf
http://sejarah.kompasiana.com/2010/08/25/sejarah-adzan/
READMORE
 

Muhammad bin Maslamah Pencetus Siasat Ightiyal Bagi Penghina Islam


Tentang Muhammad bin Maslamah
Muhammad bin Maslamah adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Ansar, ia berasal dari suku Aus di Madinah.
Ia berperawakan tinggi dan besar selain itu Maslamah merupakan seorang pendiam, pemikir, amanah, dan selalu taat menjalankan ajaran agamanya. Ia juga dikenal sebagai orang pemberani. Dalam medan pertempuran, ia bahkan selalu berada di barisan terdepan.
Meski bernama Muhamad bin Maslamah, ia tidak terlahir sebagai Muslim. Namun ia merupakan generasi pertama di Yatsrib atau Madinah yang memeluk Islam. Ia masuk Islam di bawah bimbingan Mush’ab bin Umair yang merupakan utusan pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah.
Muhamad bin Maslamah memeluk Islam sebelum orang-orang yang berpengaruh di Madinah memeluk Islam, seperti Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz.
Tak heran jika ia selalu bergabung dalam setiap pertempuran untuk mempertahankan kemuliaan Islam. Pernah sekali ia tak bergabung dalam sebuah pertempuran yaitu Perang Tabuk. Sebab saat itu ia mendapatkan tugas bersama sahabat Ali bin Abi Thalib agar tetap di Madinah untuk menjaga kota tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pula kesetiaan dan kegigihannya dalam membela Islam. Beliau tak jarang mempercayakan pasukan Islam kepada Maslamah. Pada Perang Uhud, ia dipercaya untuk membawahi 50 prajurit dan memberinya tugas untuk melakukan patroli sepanjang malam di perkemahan pasukan Islam.
Dalam peperangan tersebut, pasukan Islam sedikit kewalahan dalam menghadapi musuhnya. Saat itu, sekitar tujuh puluh prajurit Muslim gugur dan lainnya kocar-kacir menyelematkan diri. Sedangkan prajurit lainnya, termasuk Maslamah, membentuk pasukan kecil untuk melindungi keselamatan Nabi Muhammad.
Di saat lain, tepatnya tahun keempat hijrah, Nabi Muhammad menemui sebuah suku Yahudi yaitu Bani Nadir untuk meminta bantuan atas sebuah masalah. Namun ternyata suku tersebut sedang merencanakan upaya pembunuhan terhadap Nabi. Segera Nabi kembali ke pusat kota Madinah. Ia memanggil Muhammad bin Maslamah dan mengirimnya ke suku tersebut.
Maslamah membawa perintah dari Nabi bahwa Bani Nadir harus meninggalkan Madinah dalam jangka waktu sepuluh hari. Ini dilakukan karena keculasan mereka. Beragam kepercayaan ini merupakan bukti bahwa Muhamad bin Maslamah merupakan sahabat yang setia, pemberani, dan jujur.
Kepercayaan yang ia dapatkan tak hanya selama masa hidup Nabi. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Maslamah juga mendapatkan kepercayaan yang berlimpah dari para khalifah. Contohnya, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, ia dipilih menjadi salah satu menteri. Tak hanya itu, ia juga dianggap sebagai teman dan penasihat terpercaya sang khalifah.
Sebelum dia diangkat menjadi menteri, ia dikirim ke Fustat, Mesir, untuk menopang pasukan Amr bin Ash. Karena saat itu Amr memang meminta Khalifah Umar untuk mengirimkan bala bantuan untuk memperkuat ekspedisinya. Umar mengirimkan empat detasemen yang setiap detasemen terdiri dari seribu prajurit.
Salah satu detasemen tersebut dipimpin oleh Muhamad bin Maslamah. Kepada Amr, Umar menyampaikan sebuah pesan bahwa ia mengirimkan Muhamad bin Maslamah untuk membantu meraih kejayaan dalam menjalankan misinya. Maka Amr harus menerima Maslamah dan memaafkannya jika Maslamah melakukan sebuah kesalahan.
Nyatanya, Maslamah memberikan kontribusi yang berharga bagi kesuksesan misi yang dijalankan Amr di Fustat tersebut. Setelah kepemimpinan Umar digantikan oleh Usman bin Affan, Maslamah juga tetap mendapatkan kedudukan yang terhormat di mata khalifah ketiga tersebut.
Sang Pencetus Siasat Ightiyal Bagi Penghina Islam
Di antara prestasi gemilang beliau di saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup adalah menjadi inisiator siasat ightiyal (eksekusi secara diam-diam dan mendadak) terhadap tokoh Yahudi Ka’ab bin Asyraf yang menghasut suku Quraisy untuk memerangi Nabi. Selain itu Ka’ab juga menghina Nabi Muhammad dan para sahabat lewat syair-syairnya.
Saking masyhurnya operasi ightiyal tersebut, para ulama mujahid seperti Syaikh Abu Jandal Al Azdi dalam kitabnya tahridhil mujahidin al abthal ‘ala ihyai sunnatil ightiyal menjadikan kisah operasi ightiyal Muhammad bin Maslamah sebagai hujjah masyru’iyatul ightiyal (disyari’atkannya ightiyal) bagi para aimmatul kufr (para pemimpin kekafiran).
Berikut ini adalah kutipan dari kitab yang ditulis Abu Jandal Al Azdi mengenai kisah operasi ightiyal yang dilakukan Muhammad bin Maslamah bersama anggota timnya terhadap Yahudi penghina Islam Ka’ab Al Asyraf.
Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Rasulullah SAW berkata,
مَنْ لِكَعْبٍ بْنِ اْلأَشْرَف فَإِنَّهُ آذَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ
“Siapa yang mau membereskan Ka‘ab bin Al-Asyrof? Sesungguhnya dia menyakiti Alloh dan Rosul-Nya.”
Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka aku membunuhnya?” Beliau menjawab, “Ya,” “Kalau begitu izinkan aku (nanti) mengucapkan sesuatu…” pintanya. “Katakan saja,” kata Rosul.
Maka Muhammad bin Maslamah datang kepada Ka’ab bin Al Asyrafdan berkata, “Siapa sebenarnya lelaki itu (maksud dia adalah Nabi SAW), dia memungut zakat dari kita dan membebani kita, sesungguhnya aku datang kepadamu untuk bersekutu denganmu.”
Ka‘ab berkata, “Demi Alloh, tuliskan surat saksi untuknya.”
“Sesungguhnya kita telah mengikutinya, lalu kami tidak ingin meninggalkannya sampai kita lihat, bagaimana akhir dari ajarannya. Dan kami menginginkan engkau meminjami kami satu wasaq atau dua wasaq (makanan).”
Ka‘ab berkata, “Kalau begitu, berikan kepadaku barang sebagai gadai.”
“Barang apa yang kau mau?” tanya mereka.
“Gadaikan wanita-wanita kalian.” Kata Ka‘ab.
“Bagaimana kami akan menggadaikan wanita-wanita kami, sementara engkau adalah orang Arab paling tampan.”
“Kalau begitu, gadaikan anak-anak kalian.”
“Bagaimana kami akan menggadaikan putera-putera kami kepadamu, sementara mereka akan dicela karenanya, dan akan dikatakan: hanya demi menggadai satu atau dua wasaq (kalian rela menggadaikan anak-anak kalian)? Sungguh, ini aib bagi kalian.”
Mereka berkata, “Kami akan menjadikan senjata kami sebagai gadaimu.”
“Baiklah,” jawab Ka‘ab.
Lalu ia menjanjikan kepada mereka untuk bertemu di malam hari dengan membawa geriba, bersama Abu Na’ilah –saudara sesusuan Ka‘ab—. Maka Ka‘ab mengundang mereka untuk datang ke bentengnya, kemudian ia turun untuk menemui mereka. Isterinya berkata, “Mau ke mana engkau malam-malam begini?”
Ka‘ab menjawab, “Itu tak lain adalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku, Abu Na’ilah.”
Perawi selain Amru mengatakan, “Kemudian isterinya berkata lagi, “Aku mendengar suaranya seperti tetetas air.” –dalam lain riwayat: Aku mendengar suara seperti suara darah—.
Ka‘ab berkata lagi, “Itu tak lain adalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara sesusuanku, Abu Nailah. Orang yang mulia itu, kalau dipanggil untuk berjalan di malam hari pasti menyanggupi.”
Kemudian Muhammad bin Maslamah masuk bersama dua orang, menurut Amru kedua orang itu bernama Abu ‘Abs bin Hibr dan ‘Abbad bin Bisyr.
Amru melanjutkan kisahnya:
“Muhammad bin Maslamah berkata, “Jika dia datang, aku akan memegang kepalanya, maka jika kalian telah melihatku berhasil melumpuhkannya, penggallah lehernya.”
(Inilah cara untuk membunun orang seperti dia, sebab dia berbadan besar dan kuat)
Ketika ia turun dari benteng sembari menyandang pedangnya, mereka berkata, “Kami mencium aroma harum dari tubuhmu.” “Ya,” jawab Ka‘ab, “…istriku adalah wanita Arab paling harum.” Muhammad bin Maslamah berkata, “Bolehkan aku mencium baunya?” “Silahkan,” kata Ka‘ab. Ia pun pura-pura menciumnya. Ia berkata, “Bolehkah kuulangi lagi?”
Maka ketika itulah, Muhammad bin Maslamah berhasil melumpuhkannya, kemudian ia berkata, “Giliran kalian, bunuhlah dia.” Mereka akhirnya berhasil membunuhnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Kemudian, orang-orang yahudi datang kepada Nabi SAW setelah terbunuhnya Ka‘ab bin Al-Asyrof. Mereka berkata, “Wahai Muhammad, teman kami terbunuh tadi malam, padahal dia adalah salah satu tokoh pemuka kami. Ia dibunuh secara diam-diam (ightiyal) tanpa dosa dan kesalahan apa pun sejauh yang kami tahu.” Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّهُ لَوْ فَرَّ كَمَا فَرَّ غَيْرُهُ مِمَّنْ هُوَ عَلَى مِثْلِ رَأْيِهِ مَا اغْتِيْلَ ، وَلَكِنَّهُ آذَانَا وَهَجَانَا بِالشِّعْرِ وَلَمْ يَفْعَلْ هَذَا أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلاَّ كَانَ لِلسَّيْفِ
“Sungguh, kalau dia melarikan diri sebagaimana orang seperti yang sepemikiran dengannya melarikan diri, tentu ia tidak akan dibunuh dengan cara ightiyal, akan tetapi dia menyakiti kami dan mencemooh kami dengan syair, dan tidak ada satu pun dari kalian yang melakukan perbuatan seperti ini kecuali pedang lah pilihannya.” (HR. Bukhori no. 3031 dan Muslim no. 1801).
Ka’ab bin Al Asyraf memang biasa memprovokasi orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Ia juga mencela Nabi SAW dengan syairnya dan menggoda isteri-isteri kaum muslimin.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “di dalam Mursal Ikrimah dikisahkan, pagi harinya kaum yahudi ketakutan, lalu mereka datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Pemuka kami terbunuh secara diam-diam,” akhirnya Nabi SAW menceritakan kelakuan Ka‘ab kepada mereka, di mana ia suka memprovokasi orang untuk menyakiti beliau dan kaum muslimin.
Sa‘ad menambahkan, “Maka mereka menjadi takut dan tidak menjawab sedikit pun.” –hingga Ibnu Hajar berkata—: “…hadits ini berisi kebolehan membunuh orang musyrik tanpa harus mendakwahi terlebih dahulu, jika dakwah secara umum telah sampai kepadanya. Juga berisi bolehnya mengucapkan kata-kata yang diperlukan di dalam perang, meski pengucapnya tidak bermaksud makna sebenarnya. Bukhori mengeluarkan hadits ini dalam Kitabul jihad bab Berbohong dalam perang dan Bab Menyergap orang kafir harbi.”
Muhammad bin Maslamah wafat
Muhammad bin Maslamah meninggal di Madinah pada tahun 43 hijriah. Beliau tidak mengikuti perang Jamal dan Shiffin karena menghindari terjadinya fitnah. Ia meninggal dalam usia 77 tahun. /voa-islam.com]
AZHAR.M.F
READMORE
 

Ibrahim Ash-Sha'igh: Berani Berkata Benar di Hadapan Penguasa ZalimAZGH


Berdakwah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zhalim memang tidak mudah. Konsekwensi dari mulai dipenjara, disiksa maupun dibunuh adalah resiko yang harus diterima. Namun demikian Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memberikan kabar gembira bagi mereka yang syahid di kalangan para da’i yang tetap tegas menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zhalim.

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zhalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya, lalau pemimpina itu membunuhnya. (Hadits Shahih dalam Mustadrak ‘ala shahihain, imam Al Hakim no. 4884).

Dalam hadits yang lain ditegaskan:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling afdhal adalah berkata benar di hadapan pemimpin zhalim (H.R. Abu Dawud no. 4344, Ibnu Majah no. 4011, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani).

Sekelumit kisah Ibrahim bin Maimun Ash Shai’gh berikut ini adalah contoh di kalangan ulama salafus shalih yang tak tianggal diam melihat kemunkaran yang dilakukan seorang pemimpin, meskipun di zamannya masih berdiri kekhilafahan.

Ibrahim Ash Shai’gh adalah ulama perawi hadits dan sahabat imam Abu Hanifah. Ia hidup di masa pemerintahan khilafah Bani Abbasiah Abu Ja’far al Manshur.  Berikut ini kisah beliau yang dikutip sebagian ulama sebagai ibrah.

Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “ketika Abu Hanifah mendengar kabar kematian Ibrahim Ash Shai’gh, ia menangis sampai kami khawatir ia akan mati. Kami lalu menungguinya. Ia lalu berkata, demi Allah ia adalah orang yang cerdas. Sungguh aku sudah takut hal ini akan terjadi. Aku bertanya, apa sebabnya? Ia menjawab; ia pernah datang kepadaku dan bertanya. Ia adalah orang yang sangat berani mengorbankan diri untuk menaati Allah. Dia adalah orang yang sangat wara’. Aku pernah memberinya sesuatu lalu ia bertanya padaku. Jika tidak ridha ia tak mau mencicipinya.

Ia bertanya padaku tentang amar ma’ruf nahi munkar sehingga kami sepakat bahwa hal itu merupakan salah satu kewajiban dari Allah. Ia berkata padaku; ulurkan tanganmu sehingga aku berbaiat padamu lalu dunia menggelapkan aku dengannya. Aku bertanya padanya; mengapa? Ada yang mengajakku pada hak Allah kemudian engkau menolaknya. Aku berkata kepadanya, jika hanya satu orang yang melakukannya, ia akan terbunuh dan urusan manusia tidak lebih baik, tetapi jika ada para penolong yang shalih dan seorang laki-laki yang memimpinnya, amanah atas agama Allah tidak berubah.

Abu Hanifah berkata; akibatnya setiap kali bertemu denganku , ia menagihku seperti menagih hutang. Setiap kali bertemu denganku, ia menagihku. Aku katakana padanya; hal ini tidak cocok dilakukan sendirian. Para Nabi tidak mampu melakukannya sehingga mendapatkan jaminan dari langit. Kewajiban ini tidak sama dengan kewajiban lainnya, bisa dikerjakan sendirian. Jika kewajiban ini dikerjakan sendirian, berarti ia menyerahkan darahnya dan kehormatannya untuk kematian.

Aku takut jika ia mempersilahkan dirinya untuk kematian dan jika ia terbunuh, tidak ada orang yang akan sanggup mempertaruhkan dirinya.

Lalu ia pegi ke Morow, tempat Abu Muslim Al Khurasani. Di sana ia berbicara dengan kalimat yang berat lalu ia ditangkap. Ulama Khurasan dan para ahli ibadahnya lalu berkumpul untuk melepaskannya. Mereka lalu menjenguk dan menasehatinya.

Ia berkata kepada Abu Muslim, aku tidak menemukan sesuatu yang dapat aku gunakan untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih utama daripada berjihad melawanmu dan dan tidak sekedar melawan dengan lisanku, tidak dengan kekuatan tanganku, tetapi Allah melihatku bahwa aku membencimu. Abu Muslim lalu membunuhnya.

Kisah Ibrahim Ash Shai’gh di atas terdapat dalam kitab Ahkamul Qur’an (jilid II, hal 319), yang ditulis oleh Imam Al Jashash.

Para ulama telah mengambil ibrah dari kisah tersebut tentang bagaimana seharusnya berdakwah. Apalagi kisah di atas begitu tepat jika ditarik dalam kondisi kekinian, mengingat pemimpin negeri kaum muslimin di banyak tempat bukan lagi sekedar zhalim tetapi sudah menjadi thaghut.

Diantar ulama yang menyertakan kisah tersebut dalam tulisannya adalah Dr. Taufiq Al Wa’i dalam kitabnya Ad Da’wah Ilallah. Pada intinya ia menjelaskan bahwa kisah antara Imam Abu Hanifah bersama sahabatnya Ibrahim As Shai’gh merupakan contoh kongkrit dikalangan para ulama, bahwa ada di antara mereka yang dalam berdakwah memilih rukhshah (sesuatu yang dibangun di atas udzur) seperti Abu Hanifah maupun ‘azimah (sesuatu yang dibangun tanpa ‘udzur) seperti Ibrahim Ash Shai’gh.

Sementara Asy Syahid (kama nahsabuhu insya Allah) Syaikh Abdullah Azzam dalam kitabnya Hukumul ‘Amal Fi Jama’ah mengutip kisah di atas dengan bab yang diberi judul wa abu hanifah yara dharuratal ‘amal jama’i wal iltiqa ‘ala rajulin shalih.

Dari judul yang dikemukakan sudah dapat dicerna pesan Syaikh Abdullah Azzam di mana ia menekankan pendapat Imam Abu Hanifah dalam kisah tersebut akan pentinganya suatu amal jama’i yang dipimpin seorang amir yang shalih dalam rangka dakwah, amar ma’ruf nahi munkar. [voa-islam.com]
AZHAR.M.F
READMORE
 

Pattimura Bukan Kristiani, Melainkan Muslim yang Taat


Ambon (Voa-Islam)- Menurut sejarawan Muslim Ahmad Mansur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.
Seperti diketahui, selama ini, dalam buku-buku sejarah, Kapitan Pattimura selalu disebut sebagai seorang Kristen. Inilah salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minoritas atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan Indonesia pada umumnya.
Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Sapura seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.
Mansyur Suryanegara berpendapat, bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.
Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan nama Maluku.
Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku “Menemukan Sejarah” (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”
Buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.
Jadi asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).
Perjuangan Pattimura
Pattimura bangkit memimpin rakyat Maluku menghadapi ambisi penjajah yang membawa misi Gold (emas/kekayaan), Gospel (penyebaran Injil), and Glory (kebanggaan). Perlawanan rakyat Maluku dilakukan karena kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah Belanda seperti yang dilakukan masa pemerintahan VOC. Selain itu, Belanda menjalankan praktik-praktik monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi, yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Alasan lainnya, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.
Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.
azhar.m.f
READMORE
 

Masjid al-ijtihadul Islami; Sejarah dan Perkembangan


Masjid al-Ijtihadul Islami, begitulah ketika orang-orang yang berada di sekitar wilayah masjid ketika melihat masjid ini.
Dengan luas yang dapat menampung hingga ratusan jama'ah ini, menjadi pusat jama'ah Persatuan Islam 112 yang ada di Bogor Utara,
tetapi ketika kami menanyakan kapan masjid ini di bangun, tidak ada yang tahu pasti kapan masjid ini di bangun atau di buat.

Ketika kami menanyakan kepada bapak Izudin Tamim (sesepuh yang sudah lama tinggal di situ, ujar orang-orang yang berada di sekitar situ), beliau mengatakan bahwa, mesjid ini di bangun sejak saya belum lahir, kira-kira dua tahun sebelum saya lahir, sedangkan umur saya sudah 87 tahun, berarti masjid ini di bangun pada tahun 1923, begitu ujarnya.

dulu hanya terbuat dari bambu dan atapnya hanya terbuat dari daun kirai (seperti daun kelapa). Seiring berjalannya waktu, merenovasi masjid ini pun terus di lakukan, dan juga sumbangan oleh para donatur yang terus di lakukan, membuat masjid ini dapat berdiri dengan kokoh sampai sekarang ini.



Oleh : Muhammad Ma'ruf,Azhar.M.Faris,Faris Akhyari 

READMORE